Beranda Gaya Hidup Feature Bagaimana Islam Menyikapi Hoax ?

Bagaimana Islam Menyikapi Hoax ?

Foto saat khutbah.

Oleh: M Khoirul Anwar, S.Sos
(Alumni Ma’had Utsman bin Affan Jakarta)

Bismillahhirrahmannirrahim.
Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuhu

Jamaah Sholat Jum’at yang dirahmati Allah SWT
Bersyukur kita kepada Allah swt dengan mengucapkan kalimat “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin”. Ini adalah ungkapan yang paling tepat sebagai bentuk syukur kita kepada Zat yang telah menciptakan, mengatur serta menguasai jagat raya ini. Tentu kalimat tersebut juga harus dibarengi dengan perbuatan yang baik pula.

Shalawat beriring salam semoga senantiasa tercurah untuk baginda Nabi besar Muhammad saw. Karena beliau telah mengorbankan bukan hanya hartanya, keluarganya, tapi juga nyawanya demi tegaknya kalimat haq “Laa Ilaha illaLlah Muhammadurrasulullah”.

Kita berdoa kepada Allah, semoga kita termasuk kedalam manusia yang diakui sebagai ummat Muhammad dan mendapat syafa’at atas izin Allah swt. Amin.

Saudara pembaca setia Radar Utara yang in sya Allah senantiasa dirahmati oleh Allah swt. Di kesempatan yang mulia ini dan di waktu yang penuh berkah ini, tak lupa Khotib mengingatkan khususnya pada diri Khotib pribadi dan umumnya pada kita sekalian yang mendengarkan.

Marilah sama-sama kita tingkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah swt, taqwa dalam arti yang sebenarnya, yaitu menjalankan apa yang Allah swt perintahkan dan menjauhi apa-apa yang menjadi larangan-Nya.

Saudaraku yang dirahmati Allah, sekarang sampailah kita pada masa dimana ungkapan “mulutmu harimaumu” telah berpindah kepada “jarimu tanggung jawabmu”. Kenapa saya katakan begitu, hadirnya internet telah menjadikan segala sesuatu dapat mudah untuk dijangkau hanya menggunakan jari.

Dengan bantuan sosial media kita bisa melihat ribuan, bahkan jutaan informasi tersebar di dalamnya. Dan sudah pasti tidak semua informasi tersebut dapat di pertanggungjawabkan kebenarannya. Padahal Islam sebagai Lifestyle (cara hidup) seorang muslim telah dengan tegas mengajarkan kepada kita untuk tidak menyebarkan informasi tanpa diketahui kebenarannya.

Allah swt berfirman dalam Q.S Al-Hujarat Ayat : 6. yang artinya ; “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.

Syeikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam kitab tafsir Al-Wajiz menegaskan tentang ayat ini Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulnya, jika telah datang kepada kalian orang-orang fasik yang mereka tidak pernah kalian anggap sebagai pembohong akan kabar yang dibawanya, maka benarkanlah atas apa yang telah kalian dengar dari mereka.

Periksalah oleh kalian akan kebenaran apa yang mereka katakan khususnya bagi kabar-kabar yang penting agar supaya tidak menjadikan kaummu permusuhan dan kejahatan sehingga berakibat penyesalan.

Jamaah Sholat Jum’at yang dirahmati Allah SWT
Dari ayat diatas Allah swt memerintahkan kepada kita untuk memperhatikan betul kebenaran sebuah informasi. Karena benar terjadi pada masa Rasulullah saw sebuah kekacaun yang disebabkan oleh informasi yang tidak benar dan disampaikan oleh orang yang tidak benar pula.

Misalnya fitnah yang menimpa ummul mukminin Aisyah ra dengan sahabat Shafwan bin Mu’athal as-Sulami adz-Dzakwani ra. Mereka difitnah telah melakukan perselingkuhan oleh seorang munafik laknatullah alaih. Tepat saat selesai peperangan antara kaum muslimin dengan Bani Musthakiq pada bulan Sya’ban tahun 5 hijriyah.

Bukan hanya itu, akibat dari maraknya penyebaran informasi yang tidak benar (Hoax) telah menjadi penyebab utama terjadinya selisih pendapat juga perpecahan antar ummat dan berbagai element masyarakat. Menyikapi yang demikian, kita sebagai seorang muslim yang memiliki pedoman dalam berkehidupan, mari kita jadikan firman Allah sebagai acuan dalam bersikap dan petuah para ulama sebagai panutan dalam melawan hoax.

Karenanya melalui ayat diatas, marilah kita lebih bijak dalam mengelola informasi. Mulai dari siapa yang menyampaikan, apa isinya dan siapa serta apa tujuan dari disebarkannya informasi ini.

Untuk mengakhiri khutbah ini, mari kita perhatikan bersama sabda Rasulullah SAW yang artinya ;
“Barangsiapa mengadakan sesuatu sunnah (jalan) yang baik, maka baginya pahala sunnah dan pahala orang lain yang mengerjakannya hingga akhir kiamat. Dan barangsiapa mengerjakan sesuatu sunnah yang buruk, maka atasnya dosa membuat sunnah buruk itu dan dosa orang yang mengerjakannya hingga akhir kiamat.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Dari hadis diatas kita pahami bahwa setiap hal yang kita lakukan itu pasti memiliki dampak. Dan seseorang akan menuai apa yang ia tanam. Perbuatan baik akan berdampak baik, begitu pula sebaliknya. Karenanya, mari kita bersama menjadi pelopor kebaikan dengan tidak mudah menerima informasi yang belum tentu kebenarannya dan yang paling penting tidak mudah menyebarkan informasi tanpa konfirmasi.

Media hanya alat, isinya tetap kita yang menentukan. Kalau para penjahat bisa dengan mudahnya menebar kebencian, sungguh kita jauh lebih berhak untuk melawan dengan menebar kebaikan.
Semoga yang sedikit ini bermanfaat, apabila ada kesalahan itu datangnya dari khotib pribadi, apabila ada kebenaran itu datangnya dari Allah SWT. Saya tutup, hadanallahu wa iyyakum ila shiratim mustaqim.

Wassalammualaikum warahmatullahi wabarakatuhu